Motivasi Diri Vs Pengawasan
Categories: MOTIVASI - Tags: mencari pekerjaan, merawat semangat, motivasi diri, otomotif indonesia, salesmanshipDulu, ketika saya menjadi sales, hal tersulit yang pernah saya alami sebenarnya bukan pada bagaimana saya bisa menjual mobil kia yang notabenenya termasuk mobil baru di pasar otomotif Indonesia, dan memang tidak mudah; untuk tidak mengatakan “susah”. Hal yang tersulit yang saya rasakan adalah bagaimana saya merawat api semangat dan motivasi yang ada dalam diri agar tetap menyala dan tidak padam. Memotivasi orang lain tidak segampang memotivasi diri sendiri. Memotivasi orang berhubungan dengan lidah dan ludah. Sedangkan memotivasi diri berhubungan dengan hati.
Setiap orang hidup, dimana pun bekerja, pasti pernah mengalami masalah dan rintangan. Apalagi di dunia sales dan marketing yang bekerja di bawah target dan tekanan. Jadi tidak heran, banyak yang menjadikan pekerjaan sales sebagai batu lonjatan, atau sebagai pengisi waktu ngganggur sambil mencari pekerjaan yang lain. Padahal, pekerjaan sebagai sales adalah pekerjaan yang akan menjadikan kita sebagai seorang mahasiswa super lagi. Kita bisa belajar, pintar, menjalin relasi dan sekaligus digaji dengan kesempatan penghasilan yang tak terbatas, tergantung target penjualan. Tinggal apakah kita termasuk seorang “safety player” atau kita termasuk “adventure”. Apakah kita termasuk orang yang pasrah menerima keadaan, atau apakah kita termasuk orang yang dapat menciptakan keadaan (nasib)? Pilihan ada di tangan Kita.
Kembali kepada Motivasi dan Pengawasan (Kontrol). Dulu, atasan saya menerapkan Manajemen ini untuk mengatur tenaga salesnya, termasuk saya sebagai salesnya. Saya tahu persis buku apa yang Beliau baca untuk menambah wawasannya, karena saya juga membacanya. Jadi tidak sulit untuk mengerti kebijakan dan keinginannya dalam memanej teamnya. Bukankah sebagian tugas kita sebagai bawahan adalah mengerti “persis” apa yang diinginkan oleh atasannya? Visi dan Misinya? Bukan dengan cara menjilat agar dapat mempertahankan jabatan dan posisinya.
Sales yang bekerja dengan motivasi tinggi, motivasi besar untuk berhasil, usaha cerdas dan keras dalam setiap pekerjaannya, maka pengawasannya akan sedikit longgar, karena ia tahu persis, merawat motivasi diri adalah hal tersulit. Hasil dan kinerja yang didapat dari seorang sales yang antusias dan bermotivasi tinggi pasti lebih karena mereka mempunyai inisiatif untuk memecahkan masalah atau mencegah masalah. Dan sebaliknya: Ketika motivasi menurun, gairah kerja turun, maka pengawasan (kontrol) akan semakin ketat.
Selanjutnya; Apakah menajamen cukup peka dan jeli dengan hal ini dengan tidak mengganggu semangat mereka dengan hal-hal yang sebenarnya sepele dan bukan hal prinsip?. Seperti: mempersulit yang sebenarnya mudah; penerapan sistem insentive yang sebenarnya merugikan sales (sitem penerapan target tertentu baru dapat klaim insentive, [seperti sales kartu kredit] yang tidak didukung dengan support yang memadai); dan hal-hal yang lain yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan mudah. Atau manajemen lebih memilih menciptakan “sales bajing lonjat”? Sales yang selalu pindah dan lari dari tanggung jawab setiap ada masalah?
Entahlah, Saya masih belum mengerti dengan logika “kaderisasi manajemen ” perusahaan otomotif. Saya harus lebih banyak belajar…
(based on “Positive Business Ideas” by James Gwee)
Incoming search terms:
pengawasan diri (10),permasalahan sales di perusahaan otomotif (2),buku motivasi sales mobil (1),pengawasan kepada seorang sales (1),motivator untuk sales mobil (1),motivasi sales marketing (1),motivasi menjual mobil (1),motivasi diri untuk sales (1),masalah sales mobil (1),permasalahan sales otomotif (1)












Saya rasa lebih susah memotivasi diri kita sendiri, menurut pengalaman saya ketika saya sedang terjatuh menghadapi masalah kuliah. Saya bkerja part time sehingga terkadang kuliah saya terbengkalai. Saya sering memotivasi temen seperjuangn saya alias seprovis (hehe) agar cepat2 menyelesaikan skripsi nya, padahal terkadang saya sendiri malas untk kuliah di pagi hari karna harus bkerja part time pada malam hari nya. Intinya susah mengontrol semangat yg ada diddiri kita, lebih susah memotivasi diri sendiri.